Minggu, 01 November 2009

Pintu Kenabiyan Tetap Terbuka : Tiga Masalah Penting oleh H. Mahmud Ahmad Chema H.A.

Pintu Kenabiyan Tetap Terbuka : Tiga Masalah Penting oleh H. Mahmud Ahmad Chema H.A.

Masalah kedua yang penting dalam Agama Islam ialah tentang ada tidaknya wahyu dan ada tisaknya nabi sesudah nabi Muhammad saw.

Kebanyakan kaum muslimin berpendapat bahwa sesudah Rasulullah saw. Tidak aka nada lagi wahyu

Menurut ajaran Islam wahyu itu banyak macamnya. Yang penting di antaranya ialah:

1. Wahyu Syariat

2. Wahyu tanpa Syariat.

Wahyu syariat tidak mungkin turun lagi sesudah Al-Quran, karena Syariat Al Quran sudah lengkap sampai Hari Kiamat. Sedangkan wahyu tanpa Syariat mungkin saja turun
sewaktu-waktu.

Arti Nabi

Orang-orang yang memproklamirkan bahwa mereka banyak menerima wahyu tentang khabar-khabar gaib dan mendapat pengesahan dari Allah swt menurut agama Islam, mereka itu adalah Nabi.

Di bawah ini dicantumkan beberapa ayat Al-Quran dan Hadits yang menerangkan tentang masih terbukanya pintu kenabiyan sesudah Nabi Muhammad saw.

1. Ayat Pertama

Allah swt berfirman dalam Surah Al Haj ayat 75:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلاً وَمِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Artinya: "Allah memilih utusan-utusanNya dari malaikat dan dari manusia."

Perkataan yasthofi dalam ayat ini artinya memilih.

Menurut peraturan bahasa Arab, yasthofi itu fi'il mudhori yang maksudnya menunjukkan pekerjaan yang sedang atau akan dilakukan.

Jadi jelasnya Allah swt sedang atau akan memilih Rasul-rasul-Nya menurut keadaan zaman atau menurut keperluannya.

2. Ayat Kedua

Allah swt berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 179:

مَّا كَانَ اللّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىَ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللّهَ يَجْتَبِي مِن رُّسُلِهِ مَن يَشَاءُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرُسُلِهِ وَإِن تُؤْمِنُواْ وَتَتَّقُواْ فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Allah tidak akan membiarkan orang-orang mukmin di dalam keadaan yang kamu ada padanya sebelum Dia pisahkan yang buruk daripada yang baik. Dan Allah tidak akan memberitahukan yang gaib kepadamu. Akan tetapi Allah memilih diantara Rasul-rasul-Nya siapa Dia kehendaki. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasulNya”.

Keterangan: Perkataan yadzara, yamiza, yutli'a dan yajtabi itu adalah fi'il mudhori yang dipakai untuk masa zaman ini (sekarang) dan zaman yang akan datang. Maksud ayat ini ialah, Allah swt akan mengirimkan Utusan-utusanNya untuk memisahkan yang baik daripada yang buruk dan untuk memberitahukan tentang khabar-khabar gaib.

3. Ayat Ketiga

Allah swt berfirman dalam Surah An Nisa ayat 69:

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً

Artinya: “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka mereka itu termasuk golongan orang-orang yang kepada mereka Allah swt memberikan nikmat, yakni Nabi-nabi, Sidiq-Sidiq, Syahid-syahid dan Sholihin-sholihin”.

Keterangan: Dalam ayat ini perkataan ma'a artinya fi sebagaimana tersebut dalam Al Quran surah AliImran ayat 193:

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ (١٩٣)

Artinya “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan wafatkanlah kami dalam golongan orang-orang yang saleh”.

Artinya:
4. Ayat Keempat

Allah swt berfirman dalam Surah Al A'raaf ayat 35:

يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُون

Artinya: "Hai anak-cucu Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul dari antaramu yang menerangkan kepadamu ayat-ayatKu, maka barangsiapa bertaqwa dan memperbaiki
dirinya, tak akan ada ketakutan menimpa mereka tentang yang akan datang dan tidak tentang yang sudah-sudah."

5. Ayat Kelima

Setiap hari kita sering membaca Surah Al-Fatihah (ayat 6-7 bunyinya):

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

Artinya: Tuntunlah kami pada jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.

Keterangan: Siapakah orang-orang yang diberi nikmat itu?
Jawabnya kita baca dalam Surah Al Maidah ayat 20:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنبِيَاء وَجَعَلَكُم مُّلُوكاً وَآتَاكُم مَّا لَمْ يُؤْتِ أَحَداً مِّن الْعَالَمِينَ

Artinya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu, ketika Dia menjadikan Nabi-nabi diantaramu dan menjadikan kamu raja-raja."

Dalam ayat-ayat tersebut Allah swt sendiri mengajar kepada kita, supaya kita selalu berdo'a kepadaNya, supaya kita mendapat nikmat. Nikmat itu ialah kenabian dan
kerajaan-kerajaan.

6. Ayat Keenam

Allah swt berfirman dalam Surah Al Mu'minun ayat 51:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

Artinya: "Hai Rasul-rasul, makanlah dan makanan baik-baik dan kerjakanlah amal Yang baik."

Keterangan: Di dalam ayat ini perkataan ar-rasuh menyatakan sesudah Rasulullah saw akan datang Rasul-rasul lain yang makan makanan baik-baik dan mengerjakan amal saleh.

7. Ayat Ketujuh

Allah swt berfirman dalam Surah As-Shaffat ayat 71-72:

وَلَقَدْ ضَلَّ قَبْلَهُمْ أَكْثَرُ الْأَوَّلِينَ
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا فِيهِم مُّنذِرِينَ

Artinya: "Dan sesungguhnya telah sesat sebelum mereka sebagian besar dari orang-orang yang dahulu. Dan sesungguhnya telah Kami utus Pemberi-pemberi peringatan
(rasul-rasul) di kalangan mereka."

Keterangan: Ayat ini menjelaskan, apabila di dunia telah merajalela kesesatan dan kemungkaran, Allah swt senantiasa mengirimkan Utusan-utusanNya .

8. Ayat Kedelapan

Allah swt berfirman dalam Surah Bani Israil (Al Isra) ayat 16:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيراً

Artinya: "Dan Kami tidak akan menurunkan azab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.

Keterangan: Di zaman ini Allah swt telah, sedang dan akan menurunkan azab besar, di antaranya Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Vietnam, di Timur Tengah dan bermacam-macam bencana alam. Apakah ini tidak mengandung arti bahwa di zaman ini Allah swt telah mengutus seorang Rasul?

9. Ayat Kesembilan

Allah swt berfirman dalam Surah Al Maidah ayat 3:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Artinya: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-KU dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama bagimu."

Keterangan: Oleh karena agama Islam itu lengkap dan sempurna, maka pengikut-pengikutnya pun harus mendapat derajat ruhani paling tinggi, yaitu nabi-nabi.

Hadits Pertama

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah. Abu AbdillahAl Kazwaini, Darul Fikr.t.tjilid II p.484, hadis no. 1511 kita baca:

Artinya: Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah saw wafat, beliau (Rasulullah saw) menyembahyangkan jenazahnya. Kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya di surga ada yang menyusukannya. Dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi Nabi yang benar."

Keterangan: Wafatnya putra Rasulullah saw itu pada tahun 9 Hijrah sedangkan ayat "Khatamannabiyyin," sudah turun pada tahun 5 Hijrah.

Kalau "Khatamannabiyyin" itu artinya (maksudnya) Nabi terakhir (Nabi penutup, tidak ada lagi Nabi sesudah Rasulullah saw) sudah tentu beliau tidak akan bersabda, "Jika Ibrahim panjang usianya, ia pasti akan menjadi Nabi."

Hadits Kedua

Di dalam Kitab Hadits Kanzul Haqaiq fi Hadise Kaherul - Khalaq hal 4. Rasulullah saw bersabda:

Artinya: "Abubakar r.a. orang yang terbaik dari umat ini, kecuali kalau ada Nabi."

Hadits Ketiga

Di dalam kitab Hadits Muznad Ahmad Baihaqi dan Misykat hal. 461 Rasulullah saw bersabda:

Artinya: "Akan terjadi nubuat sampai waktu yang disukai Allah swt. Kemudian akan terjadi Khilafat seperti dalam Nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah swt. Kemudian akan terjadi kerajaan yang lalim sampai waktu yang disukai Allah swt. Kemudian akan terjadi Khilafat dalam Nubuat. Kemudian beliau saw berdiam diri."

Keterangan: Menurut hadits tersebut akan terjadi beberapa zaman. Pertama: ialah zaman Rasulullah saw. Kedua: zaman Khalifah-khalifah beliau saw. Ketiga: zaman raja-raja
(kerajaan) dalam ummat Islam. Keempat: zaman sekarang, ialah zaman Kenabian Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as dan Khalifah-khalifah setelah beliau as wafat.

SOAL: Orang-orang yang percaya bahwa tidak ada lagi Nabi sesudah Rasuluhlah saw mereka mengemukakan Surah Al Azhab ayat 40:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٤٠)




Artinya: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan Khatamannabiyyin."

JAWAB: Perkataan "khatamannabiyyin" itu ada tiga artinya:

1. Jika kata "khaatam" di belakangnya dirangkai dengan kata "jamak," artinya yang afdol sempurna, yang paling baik. Khatamannabiyyin artinya yang paling baik di antara
Nabi-nabi.

2. Artinya "cincin." Sebagaimana cincin itu dipakai untuk perhiasan, begitu pula Nabi Muhammad saw merupakan perhiasan bagi semua Nabi.

3. Artinya "stempel" atau "cap." Kalimat ma yakhatamu bihi artinya yang distempel Nabi Muhammad saw adalah stempel bagi semua Nabi. Dengan stempel (pengesahan) dari Nabi Muhammad saw kita mengetahui kebenaran semua Nabi.

Tentang arti "Khaatam" ini baiklah saya jelaskan lagi dengan mengutip beberapa hadits.

1. Rasulullah saw bersabda dalam kitab Hadits Musnad Ahmad dan Kamzul Ummal jilid II hal.112:

Artinya: Sesungguhnya aku tertulis disisi Allah swt sebagai Khatamannabiyyin dan sesungguhnya Adam adalah campuran antara air dan tanah.

2. Rasulullah saw bersabda dalam kitab Hadits Kanzul Ummal jilid IV hal.128:

Artinya: Tenteramlah ya Umar, maka sesungguhnya engkau adalah Khatamul Muhajirin dalam hijrah sebagaimana aku adalah Khatamunnabiyyin dalam Nubuat.

3. Rasulullah s.a.w. bersabda dalam kitab Tafsir Safi:

Artinya: Aku adalah Khatamul-ambia dan kau hai Ali adalah Khatamulaulia.

Keterangan: Dalam ketiga hadits tersebut jelas, bahwa perkataan (khaatam) tidak dapat diartikan "penutup". (Contoh: Kalau Ali diartikan "wali penutup" sudah tentu – sesudahnya Ali r.a. tidak akan ada lagi wali. Sedangkan dalam kenyataannya banyak lagi wali yang datang).

SOAL: Banyak orang yang percaya bahwa tidak ada lagi Nabi sesudah Rasulullah saw itu karena berpegang kepada Hadits Bukhari [Arab] (laa nabiyya ba di = tidak ada Nabi sesudah aku) Bukhari.

JAWAB: Hadhrat Mahyuddin ibnu Arabi dalam kitabnya "Futuhat Makkiyyah" jilid III hal. 73 menulis:

Artinya: Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w: "Sesungguhnya Risalah dan Nubuat sudah terputus maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudah aku yang bertentangan dengan Syariatku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah Syariatku."

JAWAB: Rasulullah saw bersabda:

Artinya: Apabila binasa Kisra (Raja Farsi) maka tidak ada Kirsa sesudahnya Dan apabila binasa Kaisar (Raja Roma), maka tidak ada Kaisar sesudahnya.

Maksud hadits ini ialah tidak akan ada lagi Kisra dan Kaisar seperti atau semacam Kisra dan Kaisar di zaman Rasulullah saw

Seperti itu juga kita berkata: Nabi-nabi akan datang lagi tetapi tidak seperti Nabi Muhammad saw (yang membawa agama/syariat baru).

Penjelasan

Meyakini Nabi Muhanhmad saw adalah Khaataman Nabiyyin dalam arti beliau adalah Nabi yang paling mulia (afdhal). Berhubung dengan dalam hadits dimana beliau bersabda: Aku Nabi yang terakhir. Di situ beliau bersabda pula: Mesjidku adalah Mesjid yang terakhir. Yakni mesjid beliau adalah mesjid yang paling mulia di antara mesjid-mesjid yang ada di muka bumi ini.

Sebagaimana sesudah mesjid beliau di Medinah boleh ada mesjid-mesjid lain di dunia, seperti itu pula sesudah kenabian beliau saw nabi lain bisa datang yang fungsinya hanya sebagai Nabi pengikut dan pembaharu asgama Islam, bukan nabi yang membawa syariat atau ajaran baru.

Hadits tersebut terdapat dalam kitab Muslim, yang lengkapnya berbunyi:

Artinya: Aku adalah Nabi yang terakhir dan mesjidku adalah mesjid terakhir.

Jelaslah, menurut ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits
Rasulullah saw tersebut di atas, bahwa pintu wahyu dan Kenabian tidaklah tertutup. Tegasnya: Allah swt akan terus menurunkan wahyu-wahyuNya dan senantiasa mengutus
Nabi-nabiNya.

Sumber:
1. http://masalah-kenabian.blogspot.com/
2. Buku Tiga Masalah Penting oleh H. Mahmud Ahmad Chema H.A.